Manajemen Usaha Nelayan Aceh di Tengah Pandemi Covid-19
  • UTU News
  • 18. 04. 2020
  • 0
  • 458

MEULABH - UTU | Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi berbagai tatanan kehidupan, dunia usaha dan sebagainya. Salah satunya adalah kehidupan para nelayan yang pendapatannya ikut menurut drastis akibat wabah yang telah menjangkiti ratusan Negara ini.

Untuk mendalami dampak Covid-19 terhadap kehidupan nelayan, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Teuku Umar (FPIK UTU) menyelenggarakan seminar pada tanggal 16 April 2020.

Seminar yang diselenggarakan secara online ini menghadirkan pemateri handal dibidangnya yaitu Hafinuddin, S.Pi., M.Sc yang juga Wakil Dekan II FPIK UTU.

Hafinuddin dalam paparannya menyampaikan tentang strategi antisipasi Covid-19 bagi nelayan di antaranya adalah optimalisasi pelaksanaan Sistem Resi Gudang (SRG) Ikan atau sistem tunda jual ikan dimana SRG dapat dijadikan sebagai jaminan untuk mendapat dana tunai untuk modal usaha dan Program Gerakan Memasyarakatkan memakan ikan. Itu adalah program yang sedang dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan Perikanan Republik Indonesia (KKP-RI). Selain itu, KKP juga melaksanakan program bakti sosial, bakti sehat dan bakti usaha.

Lalu bagaimana peran akademisi /perguruan tinggi/mahasiswa untuk membantu nelayan agar terbantukan di kondisi wabah COVID-19? Hafinuddin sebagai member dari Asian Fisheries Society (AFS) menjelaskan bahwa akademisi/peneliti harus berinovasi untuk menciptakan produk untuk rantai dingin baik di kapal maupun di darat ketika ikan dipasarkan, sehingga ikan tetap awet walaupun sudah beberapa hari didaratkan di pelabuhan perikanan/tempat pemasaran ikan (TPI). Selain itu, perguruan tinggi juga memberikan informasi tentang diversifikasi produk olahan ikan agar ikan dapat terjual dengan cepat dan bernilai ekonomis tinggi. Informasi ini dapat dilakukan walau dengan kondisi WFH melalui sosmed seperti FB, IG, Youtube.

Selain itu, mahasiswa sebagai agent of change juga terus melakukan pergerakan sosial (social movement) untuk membantu nelayan seperti membagikan masker, membuat tempat hand washer, dan mengkampanyekan gerakan makan ikan secara massif ditengah kondisi covid-19, dimana ikan mengandung protein tinggi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan imunitas tubuh.

"Mahasiswa juga dapat membantu pemerintah dalam pendataan nelayan yang terdampak lansung akibat virus corona dan memastikan program pemerintah tepat sasaran, tepat guna dan tepat waktu," jelas Hafinuddin, Jebolan University Malaysia Terengganu, ini.

Sementara Hengki Wilhamdaya, selaku Ketua Umum HMJ Perikanan kepada media UTU.News mengatakan seminar diikuti lebih dari 100 orang peserta dari kalangan mahasiswa Jurusan Perikanan, Akuakultur, Sumberdaya Akuatik dan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan dan dimoderatori oleh Sari Kartika.

"Alhamdulillah, ini moment pertama bagi kami selaku pengurus HMJ menyelenggarakan seminar online yang diikuti lebih dari 100 orang. Pandemi Covid-19 telah menuntut kita untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengisi perkuliahan secara daring. Semoga kedepan bisa menyelenggarakan seminar atau kuliah umum lainnya secara online." Tutup Hengky. (Aduwina Pakeh / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :