Mahasiswa UTU Terpilih Menjadi Duta Wisata Aceh 2019
  • UTU News
  • 12. 09. 2019
  • 0
  • 706

MEULABOH, UTU - Risky Abdullah Saidi, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UTU, dinobatkan sebagai Duta Wisata Aceh dalam ajang pemilihan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Aceh pada Rabu (11/09) malam kemarin.

Ajang pemilihan Duta Wisata Aceh yang dilaksanakan setiap tahun sekali, salah satunya bertujuan mengajak generasi muda untuk memiliki kepedulian pembangunan pariwisata Indonesia. Bertempat di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, berlangsung pemilihan Putra Putri Pariwisata Nusantara Aceh 2019 yang diikuti sebanyak 46 (Agam Inong) dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh.

Risky maju ke ajang duta wisata dengan niat mengajak generasi muda Aceh untuk terus belajar dan mengingat sejarah dan budaya di Aceh. "Jangan sampai budaya kita sendiri hilang karena mudahnya masuk budaya asing," ujar Risky yang mempunyai cita‑cita menjadi penulis ini.

Pemuda kelahiran Meulaboh, 12 Juli 1997 itu berhasil mengharumkan nama Aceh Barat dan Universitas Teuku Umar diajang bergengsi tersebut. Sosok yang aktif di sejumlah organisasi mahasiswa di Aceh Barat ini mampu dengan cekatan menjawab berbagai pertanyaan dewan juri tentang destinasi Visit Aceh 2019 yang hingga akhirnya mengantarkannya sebagai Juara.

Tidak hanya itu, kemenangannya menjadi sesuatu yang tidak ia sangka karena sebagai mahasiswa Teknik Sipil ia tidak memiliki latar belakang akademik yang berkaitan dengan dunia pariwisata.

Risky menuturkan, sebelum dinobatkan menjadi Duta Wisata Aceh, ia dan kontestan lainnya mengikuti serangkaian proses penilaian, seperti pertunjukan bakat, tes akademik, wawancara, serta presentasi mengenai objek wisata di daerah yang mereka wakili maupun tentang pariwisata secara umum di Indonesia.

“Selama seminggu kita mengikuti karantina dan proses penilaian oleh juri-juri dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Asosiasi Duta Wisata, budayawan, serta pemerhati pariwisata,” jelasnya.

Selama masa karantina, ujian yang dilakukan meliputi kebiasaan/behavior, kecerdasan/brains dan kecakapan/kecantikan/beauty. Untuk mengukur 3B ini, diadakan tes tertulis dan wawancara antara lain Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum, Pariwisata dan Budaya Aceh, kepribadian, table maner, presentasi makalah dan menarikan kesenian daerah. Kedisiplinan dalam mengikuti acara, ketepatan waktu, kerapian berpakaian juga menjadi bagian dalam penilaian.

Keikutsertaannya dalam pemilihan duta wisata ini berawal dari keinginannya untuk memperkenalkan pariwisata yang ada di daerahnya. Aceh, menurutnya, memiliki segudang potensi wisata yang masih belum dikenal baik oleh masyarakat Aceh sendiri maupun masyarakat Indonesia bahkan Internasional.

“Tempat wisata di Aceh bukan hanya Sabang. Di kabupaten/kota lain masih banyak tempat wisata yang layak dikunjungi para wisatawan, dan saya ingin bisa mengenalkan itu,” ujarnya.

Selain gelar, pengalaman ini memberikan banyak hal bagi Risky. Berkat keikutsertaannya dalam kompetisi ini, menurut Risky, ia bisa menjalin relasi dengan para duta wisata dari berbagai daerah dan mendengar cerita-cerita menarik tentang daerah mereka masing-masing.

Sebagai duta wisata Aceh, ia pun ingin mengajak pemuda-pemudi Aceh di berbagai Kabupaten/kota untuk turut mengambil bagian sebagai duta wisata dengan caranya masing-masing, dengan memanfaatkan setiap media yang ada saat ini.

“Tidak perlu selempang atau gelar untuk menjadi seorang duta wisata. Kita masing-masing bisa mempromosikan potensi wisata yang ada di daerah kita sendiri,” kata Risky, buah hati dari pasangan Almarhum Mukharuddin dan Nursimah, pedagang di Desa Ujong Kalak, Meulaboh ini.

Meski dalam waktu dekat ia sudah harus memulai tugasnya sebagai duta wisata, mahasiswi semester 5 ini tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa di UTU. Karena itu, ia berkomitmen untuk tetap menjalankan studinya dengan sebaik mungkin selagi menjalankan tugas bagi promosi pariwisata Aceh selama setahun ke depan.

“Sebagai Duta Wisata saya harus mengikuti banyak aktivitas di Banda Aceh, tapi saya memilih untuk tetap tinggal di Meulaboh agar bisa tetap kuliah, dan baru ke luar kota jika ada aktivitas yang harus saya ikuti,” ujarnya.

Di tengah upayanya untuk menyeimbangkan kedua hal tersebut, ia berharap dapat menjadi ikon bagi pemuda-pemudi Aceh yang peduli dan bangga terhadap pariwisata Aceh, agar jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di tahun mendatang bisa terus meningkat berkunjung ke Aceh (Aduwina).

Lainnya :